By : NNAnakku...
Ibu & Ayah
"Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya."(Salman al Farisi/Az Zuhd, Imam Ahmad)
By : NN
Hari ini saya nemu selembar coretan saya yang sudah lumayan lama dibuat, sekitar September 2001. Seingat saya, ini ditulis saat masih kerja di Sony Electronics Indonesia, waktu itu engga tau bagaimana caranya mengatakan langsung kepada kedua orang tua, kalo' saya sangat menyayangi dan mencintai mereka....jadi, cerita dan meminta aja kepada-NYA, supaya kedua orang tua saya dimuliakan oleh-NYA, fiddunya wa fil akhirati...
Tulisan dibawah ini saya ambil dari blog http://maf1453.comNama saya Felix Y. Siauw, kelahiran Palembang 26 tahun yang lalu, dan setidaknya dalam jangka waktu yang lebih dari ¼ abad itu saya sudah merasakan banyak sekali kesulitan dan kebahagiaan hidup. Setidaknya ada 4 momen paling bahagia bagi saya, yaitu tahun 2002 ketika saya memutuskan untuk mengganti keyakinan dengan mengakui Allah swt, sebagai satu-satunya Tuhan dan sesembahan.
Tahun 2006 ketika saya menikahi seorang muslimah yang kelak memberikan saya 2 momen bahagia lagi; kelahiran Alila Shaffiya asy-Syarifah pada tahun 2008 dan Shifr Muhammad al-Fatih 1453 pada tahun 2010.
Dari nama yang saya publish, sebagian besar pasti memahami bahwasanya saya tergolong etnis Cina. Dan inilah salah satu sebab kenapa saya menulis tulisan ini, disamping alasan utamanya adalah karena kewajiban mendakwahkan Islam dan pemikiran-pemikirannya ke seluruh dunia.
Ini adalah sebuah curahan hati dan aduan serta penjelasan dari seorang Ayah, Muslim-“Cina”. Walaupun banyak kasus lain yang saya alami berkaitan dengan ide bid’ah nasionalisme yang diwariskan Belanda dan Barat, saya akan sedikit memfokuskan pada satu kisah yang baru saja saya alami.
Berawal ketika Istri saya yang melahirkan anak keduanya di RS. Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, setelah itu seperti biasa, atas nama pribadi ada beberapa karyawan yang menawarkan jasa pembuatan akte kelahiran putra saya. Dan kami pun menyambut baik tawaran yang dibandrol dengan harga Rp. 100.000. Tak berapa lama, setelah karyawan tadi melihat fisik saya, lalu dia bertanya pada istri:
“Bu, bapaknya muslim bukan? keturunan ya?”
“Muslim kok, emang kenapa mbak?” Jawab istri saya santai,
“Nikahnya pake cara Islam kan?, karena kalo nikahnya beda agama susah ngurusnya bu, dan beda juga biayanya..”
“Ya Islam lah, bedanya apa mbak”, sedikit terintimidasi, Istri saya tetap berusaha santai
“Kalo pribumi 100.000 kalo keturunan 250.000”
Setelah memberitahu saya perihal percakapan ini, dengan agak kesal saya pun mencoba membuktikan perkataan istri saya tadi. Ternyata benar, ada diskriminasi kepengurusan akte kelahiran, dan dokumen yang diperlukan pun lebih daripada yang biasanya.
Walau saya desak dengan berbagai dalil, termasuk dengan dalil bahwa penghapusan istilah WNI Keturunan sudah dilakukan, tetap saja tidak ada penjelasan yang memadai kepada saya. Bertambah kekesalan saya, maka saya memutuskan untuk mengurus sendiri akte kelahiran anak kedua saya. Bukan masalah uang, ini masalah ide kufur yang tidak perlu diberikan ruang toleransi.
Langkah pertama adalah melakukan browsing ke Internet ke alamat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil; www.kependudukancapil.go.id, dan di situ saya mendapatkan informasi bahwa pembuatan akte kelahiran biayanya gratis s/d Rp. 5000.
Dan syaratnya: Surat Keterangan Lahir, KK, KTP Orangtua, dan Surat Pengantar RT/RW yang dilegalkan Kelurahan. Ternyata setelah saya datang pada hari Rabu, 07 Juli 2010, petugas malah meminta akte kelahiran untuk dikonfirmasi apakah saya warga keturunan atau bukan. Dan sekali lagi saya katakan bahwa urusan keturunan sudah tidak ada, semua yang dilahirkan di tanah Indonesia adalah WNI.
Dan setelah itu akhirnya saya tetap diminta membayar Rp. 70.000, sebelum membayar saya menanyakan bukti pembayarannya, sedikit gagap petugas menyatakan bahwa lembar bukti penyerahan dokumen sudah dianggap menjadi bukti pembayaran (nanti coba kita liat ya). Dan yang paling menyakitkan, ditulis lagi dalam keterangan permintaan akte kelahiran bahwa anak saya termasuk Stbld. 1917.
Lalu dengan serius saya tanyakan: “Masih berlaku tuh stbld?”
“Oh masih pak, semuanya harus ditulis begitu”
“Oh gitu, kirain jaman belanda aja pake stbld!” sindiran dari saya yang tampaknya tidak dipahami petugas bersangkutan.
Ok, cukup cerita pendahuluan saya, sekarang kita masuk ke pokok pembahasan.
1. Inilah budaya pegawai negeri Indonesia yang jauh dari kesan profesional dan korup, birokrasi yang terbiasa tidak jujur dan selalu mencari kesempatan atas minimnya data yang mereka beri kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Sehingga seolah-olah masyarakat yang harus membayar mereka karena pelayanan itu, padahal pelayanan mereka sudah dibayar oleh negara.
Sampai setelah saya membayar Rp. 70.000 itu, saya tidak mengetahui kemana uang ini dialokasikan, dan parahnya yang menerima uang ini adalah muslim. Saya terima kalau yang melakukan korupsi ini bila bukan muslim, tapi pelakunya sekali lagi adalah muslim, yang seharusnya menjadi pekerja yang paling jujur karena aqidahnya memerintahkan begitu
2. Budaya rasialis dan nasionalisme kampungan rupanya masih menjadi mental ummat Islam saat ini. Mereka membedakan antara pribumi dan keturunan. Tanpa mereka ketahui bahwa cara ini adalah strategi utama belanda dalam melakukan politik divide et impera dan menghancurkan sendi ekonomi dan masyarakat.
Politik rasialis ini dimulai ketika VOC dan Pemerintah Belanda membagi kelompok masyarakat menjadi Inlander (pribumi) dan Vreemde Oosterlinge (Orang Timur Asing, termasuk Cina, Arab dan India) (lihat http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/3523), lalu memberikan akses ekonomi kepada Vreemde Oosterlinge terutama orang Cina sehingga pecahlah permusuhan dan kebencian antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge (lihat Buku Api Sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara).
Politik rasialis ini bahkan dimulai semenjak awal pencatatan akta kelahiran dengan membedakan antara Inlander dan Vreemde Oosterlinge, antara agama penjajah Belanda Kristen dan Katolik serta Islam. Lihat saja akte kelahiran Anda yang muslim pribumi akan mendapatkan kode Stbld. 1920, sedangakan yang nasrani pribumi mendapatkan kode Stbld. 1933, warga keturunan dari timur (Cina, Arab, India, dan lainnya) dengan Stbld. 1917 (lihat http://www.jasaumum.com/akteKelahiran.htm). Akta kelahiran inilah yang menjadi dasar dalam perbedaan perilaku penjajah Belanda dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan status sosial.
Sayangnya (baca: bodohnya), pemerintah Indonesia justru mengadopsi Stbld. (Staatsblad, artinya Peraturan Pemerintah Belanda) menjadi aturan dalam pencatatan kelahiran yang otomatis dari awal sudah membedakan membuat rasial penduduknya berdasarkan cara penjajah Belanda membedakannya.
Jadi ketahuan sekali bahwa negara kita secara hukum dan ekonomi masih terjajah dan samasekali belum merdeka. Nah, wajar kan kalau kita liat konflik horizontal maupun vertikal atas nama etnis masih terjadi di negeri ini? karena memang dari awal pemerintah Indonesia sudah meniatkannya. Membebek penjajah Belanda. Dan hampir sebagian besar hukum kita adalah adopsi Belanda.
Belum puas rupanya dijajah 350 tahun?!
Inilah ikatan-ikatan yang merusak dan terbukti menimbulkan perpecahan dan konflik yang tak berkesudahan. Ikatan yang muncul dari pemikiran yang dangkal dan sempit. Ikatan etnisitas, kekauman dan juga termasuk ikatan nasionalisme kampungan. Ikatan inilah yang menyebabkan muslim Indonesia tidak memperdulikan muslim Palestina hanya karena dibatasi oleh garis-garis khayal batas negara.
Ikatan ini juga yang memenangkan penjajah Belanda ketika membelah ummat Islam Indonesia atas nama etnis. Dan ikatan ini pula yang menyebabkan Arab Saudi, Yordan, Turki, Mesir, Irak, Iran dan semua negara muslim saat ini terpecah belah padahal dahulunya mereka adalah satu kekuatan. Inilah sebuah ikatan palsu yang harus dimusnahkan: fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang kita kenal dengan kata ashabiyah.
Padahal Rasulullah dengan sangat jelas telah mewanti-wanti agar kita jangan membedakan diri berdasarkan sesuatu yang tidak pernah dipilih manusia atau bagian dari qadar Allah.
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada wajah kalian dan tidak pula kepada bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) kalian dan perbuatan kalian (HR Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurrairah)
Maka benarlah dalam aturan kewarganegaraan Daulah Madinah ketika Rasulullah saw. menjadi kepala negara, beliau saw. hanya membedakan 2 jenis penduduk; muslim dan kafir. Begitu pula yang dilaksanakan Khulafaur Rasyidin setelah beliau dan Khalifah-khalifah setelah mereka sampai runtuhnya Daulah Khilafah Islam Utsmaniyah tahun 1924. Artinya pembedaan kewarganegraan adalah berdasarkan pengakuannya atas Islam, bukan yang lain seperti fanatisme golongan atau bangsa.
Juga larangan sempurna dari Rasulullah atas sikap fanatisme golongan, bangsa dan semacamnya yang dirangkum dalam larangan ashabiyah.
Siapa saja yang berperang di bawah panji kebodohan marah karena suku, atau menyeru kepada suku atau membela suku lalu terbunuh maka ia terbunuh secara jahiliyah (HR Muslim)
Bukan dari golongan kami siapa saja yang mengajak kepada ashabiyah, bukan pula dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan tidak juga termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah (HR Abu Dawud)
Tidak ada keistimewaan khusus karena warna kulit, karena jenis dan karena tanah air. Dan tidak halal seorang muslim merasa fanatik (ta’ashub) karena warna kulitnya melebihi kulit orang lain, karena golongannya melebihi golongan lain dan karena daerahnya melebihi daerah orang lain. Pribumi ataupun keturunan. Bahkan Islam menaruh ikatan semacam ini dalam posisi yang paling rendah karena pemikiran semacam ini adalah batil.
Tapi inilah kondisi masyarakat dan ummat, mereka mempunyai cap tertentu bagi etnis tertentu, dan akhirnya bukan melihat karena ketakwaannya tetapi karena bentuk wajahnya. Hanya karena seseorang berwajah Arab lantas setiap bertemu tangannya dicium, karena persangkaan bahwa arab identik dengan Islam (ironis).
Hanya karena seseorang berwajah Cina lantas diidentikkan dengan kafir? (lebih ironis), lebih aneh lagi kalau ketemu bule semuanya serba senang, sumringah dan berjalan menunduk (kacau).
Inilah mental-mental terjajah, mental yang sangat ridha dan bangga kepada negara yang menjajahnya tapi lupa sama sekali dengan Tuhan yang menciptakan dirinya dan memberinya kenikmatan. Padahal kita semua sebagai muslim tidak diseru kecuali berpegang pada aqidah yang satu, ikatan yang satu, perintah yang satu dan kepemimpinan yang satu. Tauhid dalam segala bidang.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (QS ali Imraan [3]: 103)
Seandainya saja Rasulullah masih ada, maka tentu dia akan menghapuskan segala macam diskriminasi dan rasialisme yang diwariskan dunia Barat kepada kaum muslim. Seandainya saja Umar bin Khattab masih ada, maka pastilah beliau sendiri yang akan menghunus pedangnya untuk memenggal penyeru ashabiyah.
Tapi mereka telah tiada, namun bukan tanpa warisan. Rasulullah menyiapkan sebuah sistem buat ummatnya agar ummatnya dapat bersatu padu dan kuat dalam satu kepemimpinan di seluruh dunia. Insya Allah saat Khilafah Islam tegak satu saat nanti, Khalifah lah yang akan mengomando kaum muslim membunuh ashabiyah.
Judul diatas bukan sekedar pemantik keingintahuan orang untuk membaca, tidak!, itu betul - betul bermakna sebagaimana tertulis...masih berkaca mata ini setelah membaca laporan perjalan Suryo Adhiatmoko yang mewakili PPPA Daarul Quran, ke Somalia...bacalah, kemudian kita akan tahu bahwa kita teramat sangat beruntung....Oleh: Sunaryo Adhiatmoko
Jumat, 21 Oktober lalu, menginjak hari keempat saya diMogadishu, Somalia. Saya mewakili PPPA Daarul Quran yang sinergi dengan para ulama dari Afrika Selatan. Pagi itu, di kamp pengungsian Dallada, Tarbuunka, lima kilo meter dari Mogadishu yang dihuni 6.000 lebih keluarga. Seorang ibu, dengan jilbab hitam dan raut muka pucat, tergopoh menghampiri. Ia bersimpuh, meratap, dan memecah tangis di hadapan saya.
“Anaknya baru saja meninggal. Ini anaknya yang kedua meninggal dalam bulan ini”, terang Maxamed Cusman, penterjemah saya di Somalia.
Perempuan itu, bersama keluarganya datang dari desa di Baydhabo, sekitar 150 km dari Mogadishu yang datang ke kamp dengan berjalan kaki.
“Setiap hari di kamp ini selalu ada yang meninggal”, kata Cusman.
Siapapun yang melihat kehidupan di kamp itu, hatinya pasti remuk. Tak ada yang bisa saya perbuat, kecuali berdoa. Kemudian, deras pulalah air mata ini di hadapan ribuan orang yang lapar menunggu maut di kamp itu. Tak banyak kata, kematian yang tiap hari terjadi tak memantik orang-orang di kamp untuk terlalu risau. Mereka seakan paham, pada saatnya kematian berikutnya hanya giliran, selama suplai makanan tidak datang ke kamp pengungsian.
Setiap hari di kamp-kamp pengungsian selalu ada yang meninggal terutama anak-anak. Dengan terisak, ibu malang itu, kembali ke tendanya yang terbuat dari ranting-ranting kayu, dengan atap plastik seadanya. Luasnya tak lebih dari 2 x 2 meter yang dibuat mirip payung. Di dalam tenda, jasad bocah laki-laki 10 tahun, menggelepar tanpa nyawa di atas tanah. Tubuhnya kurus, penuh luka cacar yang baunya menyengat.
Masih dengan derai air mata, ia gali tanah di samping tenda. Jenazah bocah itu pun, dikubur apa adanya, tanpa prosesi pemakaman yang layak. Lengkaplah, tragedi kemanusiaan memilukan itu, terpampang di depan mata. Usai dikubur, perempuan paruh baya itu, tertunduk memeluk lutut. Tangisnya tak henti, sampai saya tinggalkan tendanya dengan perasaan terkoyak.
Di sudut tenda yang lain, seorang anak perempuan 12 tahun berbaring lemas di atas tanah, beralas selembar kain lusuh. Tulangnya menyembul, tubuh jangkungnya meranggas tanpa daging. Matanya menatap langit, seakan menanti malaikat penjemput maut datang.
Dalam catatan Maxamed Cusman, ketika para pengungsi itu datang ke kamp, sebagian postur tubuhnya masih cukup bagus. Pada hari-hari berikutnya, setiap tubuh manusia dalam kamp itu akan menyusut, mengering, kemudian berakhir di tanah kamp pengungsian.
“Saya tak tahu kenapa kami mengalami tragedi kelaparan ini”, ungkap Cusman.
“Setiap hari, kami melihat satu per satu di antara kami mmeninggal di Mogadishu. Tak hanya anak-anak, tapi juga dewasa”, Cusman berkaca-kaca.
Mogadishu yang tak lebih luas dari Jakarta itu, telah dikepung sekitar 40 kamp pengungsian.
Ikhtiar Kemanusiaan
Somalia, telah membetot perhatian masyarakat dunia. Semua hati tergugah, melihat tiap hari anak manusia meninggal kelaparan. Demikian pula, sebagian masyarakat yang menjadi keluarga besar PPPA Daarul Qur’an menyisihkan sesuap nasinya, untuk dibagi pada masyarakat Somalia. Tanpa mengurangi perhatian, pada sebagian masyarakat Indonesia yang sedang kesulitan. Pun, kita juga tak boleh menjadi batu, atas peran masyarakat di negara lain yang berduyun-duyun membantu tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, dan tatar kebencanaan lain di Indonesia yang selalu memantik kepedulian dari manusia-manusia di belahan negara lain untuk membantu.
Dengan bantuan Rp 300 juta, PPPA Daarul Qur’an menuju Cape Town, Afrika Selatan, sebelum menuju Somalia. Di Cape Town, ikhtiar dilakukan, dengan menggalang sinergi bersama organisasi Islam di Afrika Selatan.
Terbentuk “Save Somalia” yang terdiri dari PPPA Daarul Qur’an (Indonesia), Muslim Judicial Council (MJC), Darul Islam Zakah Fund, dan Al-Quds Foundation. Kami merancang program yang melibatkan para ulama Afrika Selatan dan ulama Somalia yang ada di Afrika Selatan.
Dua pekan di Afrika Selatan, PPPA bersama para ulama Afrika Selatan ngamen dari masjid ke masjid, dari acara pengajian ke acara pertemuan orang mau naik haji. Cara tradisional dengan menenteng gentong plastik ukuran besar, kami lakukan. Kami berguman, jika pada akhirnya anak-anak Somalia terus meninggal, setidaknya kami yang jauh pernah berusaha menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Itu niat sederhananya.
Kami ngamen dengan gentong plastik besar selain juga datang dari masjid ke masjid yang ada di Cape Town. Dalam dua pekan itu, kami punya target Rp 1 miliar. Maka, tepat menjelang keberangkatan tanggal 17 Oktober, dengan pancingan dana awal Rp 300 juta dari Indonesia, kami dapat menghimpun Rp 1 miliar.
Sebelum berangkat, kami melakukan pertemuan yang dihadiri sekitar 1000 orang Somalia dan para ulamanya yang di Afrika Selatan dan para ulama dari Afrika Selatan sendiri, ditambah PPPA Daarul Qur’an. Dalam pertemuan itu, kami menyerukan perdamaian bagi Somalia. Tanpa berdamai, tragedi kelaparan ini sulit dicari solusinya, karena relawan yang membawa bantuan kemanusiaan selalu terancam jiwanya di Somalia.
Masak untuk Pengungsi
Menyusuri kamp-kamp di Mogadishu, Somalia, akan banyak gundukan tanah yang mengubur jasad mereka yang tak mampu bertahan melawan lapar. Tidak ada air dan tak ada suplai makanan rutin, masuk ke kamp-kamp pengungsian di Mogadishu. Perang saudara membuat semua makin sulit. Bantuan kemanusiaan, juga tak mudah masuk langsung ke Somalia. Semua orang asing yang masuk Somalia, wajib menyewa tentara bayaran yang tarifnya 200 US Dollar per hari. Tak ada negosiasi untuk keamanan ini, tapi, saya dan rombongan pernah nego nyawa untuk menurunkan tarif.
Dataran somalia memang sedang kering. Masyarakat setempat mengatakan, hujan terakhir tiga tahun lalu. Pertanian menguning, menyisakan debu. Ternak-ternak mati kelaparan dan semua orang meninggalkan rumahnya, menuju Mogadishu atau Kamp pengungsian di Kenya. Ratusan kilo meter jalan ditempuh, sebagian banyak yang meninggal di perjalanan.
Di Somalia, hanya ada sekitar dua daerah yang dialiri sungai, SH/Dhexe dan SH/Hoose. Dari daerah itulah, suplai makanan di Mogadishu. Tapi, itu tak mampu untuk mencukupi jumlah pengungsi yang sudah mencapai jutaan jiwa. Kondisi kamp tak hanya tanpa makanan, tapi juga tanpa medis, dan MCK yang memadai. Jutaan jiwa manusia terpanggang matahari berhari-hari. Mereka terkepung, dalam penjara kelaparan akut dan deru mesiu perang saudara yang meletup tiap saat.
Di Mogadishu, kami punya target 9 hari. Program yang dijalankan, masak dari kamp ke kamp. Ada tiga kamp yang kami suplai kebutuhan makannya untuk jangka satu bulan. Yakni, Kamp Tarbuunka, Kamp Baadle, dan Kamp Thoro-thoro. Setelah 9 hari itu, program pemberian makan dilanjutkan mitra lokal dari Al-Kahfi Welfare Foundation yang bermarkas di Mogadishu. Tak lupa, di setiap kamp kami juga memotong unta, sebagai lauk nya dengan menu nasi kebuli. Menurut masyarakat setempat, daging unta adalah daging nomor satu.
Di Kamp Tarbuunka, saya bertanya pada sebagian pengungsi. “Kapan terakhir kali makan?”.
Mereka serentak menjawab, “Empat hari lalu”.
Saya lantas membisu, menunduk malu. Tapi, obat hati yang remuk selama di Mogadishu adalah, saya dan para ulama dari Afrika Selatan, diberi kesempatan masak selezat mungkin. Setelah nasi kebuli dengan daging unta matang, ribuan orang antri untuk dapat jatah makanan. Satu per satu, mereka menadahkan panci, ember, dan kantong plastik. Kami bertatap mata sejenak, mendadak semua bisa tersenyum hari itu.
Saya tahu, senyum itu sesaat. Karena besuk, mereka masih harus bertahan hidup. Sementara sesuap nasi yang kami masak hari itu, hanyalah pelipur perihnya perut dan pedihnya derita kelaparan, untuk beberapa jam saja.
Hari ini, saat saya dan rombongan kembali ke rumah, menyantap hidangan bergizi, bercengkerama dengan anak dan istri, mereka dipanggang terik kemarau dan rintihan kelaparan yang diintai maut setiap hari.
Maafkan, hanya ini yang bisa kami lakukan.
Bad Baadi Somalia...(selamatkan Somalia), itu bisik kalian saat kami gontai tinggalkan Mogadishu.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,Alasan apa yang menjadikan kalian menuduh kami Khawarij? Jika karena penampilan saudara kami bercelana cingkrang berjenggot panjang kalian tuduh sebagai Khawarij, maka kami rela disebut Khawarij. Padahal sesungguhnya celana cingkrang dan berjenggot ini kami lakukan sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasulullah di saat orang ramai meruntuhkannya.
Jika karena niqab dan hijab lebar saudari kami menjadikan kalian menuduhnya sebagai Khawarij, maka saksikanlah, kami rela disebut Khawarij. Padahal sesungguhnya niqab dan cadar ini telah menjadi pakaian takwa wanita-wanita mulia di sisi Rasulullah. Diperkuat dengan nas syar’i dalam surat Al Ahzab 59 dan An Nur 31.
Jika karena tangan kami menolak berjabat tangan dengan lawan jenis bukan mahram membuat kalian menuduh kami sebagai Khawarij sesat yang menutup diri dan tidak menghargai perbedaan agama, sesungguhnya tiada beban bagi kami memegang prinsip Islam, meski tuduhan Khawarij kalian lekatkan pada kami.
Jika karena sikap kami yang tidak mau patuh dan tunduk pada pemerintah yang tidak menerapkan hukum islam menjadikan kalian menyudutkan kami dengan gelar Khawarij, maka kami pun rela dengan tuduhan ini. Karena sesungguhnya tidak pantas bagi kami taat pada hukum yang berasal dari manusia, ayat-ayat yang dicetuskan dan ditulis oleh manusia yang tidak paham akan hukum syar’i. Tidak patut pula bagi kami menentang firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 106:
“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah beriman (mereka akan mendapatkan kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka tiada dosa baginya), akan tetapi barangsiapa yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, kemurkaan Allah padanya, dan baginya azab yang pedih.”
Sangat jelas peringatan Allah di atas, bagi yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, patuh pada hukum syirik yang berslogan demokrasi, maka murka Allah menimpa padanya. Kami pun rela kalian tuding Khawarij, jika konsekuensi kepatuhan pada firman Allah di atas memang demikian.
Jika karena pembelaan pada saudara-saudara kami di Palestina, Pattani, Chechnya, Afghanistan dan Somalia yang ditindas penjajah Amerika membuat kalian gerah lalu memberikan titel Khawarij dan teroris kepada kami, maka saksikanlah bahwa ini adalah resiko memurnikan tauhid yang sedikitpun tidak dapat mematahkan ghirah kami berjuang melawan penjajah dengan segala kemampuan kami. Rasulullah bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menyerahkannya pada musuh, tidak boleh menzalimi, tidak boleh menelantarkannya” (HR Bukhari).
Muslim dibelahan bumi manapun adalah saudara kami yang harus kami jaga dari gangguan musuh, hal ini berdasarkan hadits di atas, jadi wajib membela muslim yang sedang ditindas Amerika, meskipun kalian menuduh kami sebagai Khawarij.
Dari Hamba Allah, tertuduh Khawarij
Yulianna PS
Email: flowerhijab@yahoo.com
Aku khawatir pada suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan, keyakinan hanya tinggal pemikiran yang tidak berbekas pada perbuatan
By: Anwar Al Awlaki
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menyebutkan kenikmatan dan keutamaan akhirat yang sangat besar dibandingkan kesenangan di dunia ini. Di antaranya adalah hadits di bawah ini,"Dari `Abdullâh bin Mas’ûd radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku benar-benar mengetahui seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya dan seorang penduduk surga yang paling akhir masuk ke dalam surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan keadaan merangkak, lalu Allah berkata kepadanya, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga!’
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka, dia kembali lalu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku mendapati surga telah penuh.’
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepadanya, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga!’
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka, dia kembali lalu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku mendapati surga telah penuh.’
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata lagi kepadanya, ‘Pergilah, masuklah ke dalam surga! Sesungguhnya engkau memiliki semisal dunia dan sepuluh kalinya, atau engkau memiliki sepuluh kali dunia.’
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Laki-laki itu berkata, ‘Apakah Engkau memperolok-olok aku (atau Engkau menertawakan aku), padahal Engkau adalah Raja?’
Abdullâh bin Mas’ûd radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Aku melihat Rasulullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai nampak gigi gerahamnya.’ Dan dikatakan bahwa orang itu adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya." (H.R. Muslim, no. 308/186)
Oleh Maya Retno Ayu SetyautamiPotret 1:
Dalam acara kumpul keluarga besar, di malam hari menjelang tidur, Ney tetap mengenakan jilbabnya, bahkan tetap berpakaian rapi tanpa mengurangi apapun yang melekat pada dirinya. Di sisi lain, saudara-saudaranya, tantenya, budenya, atau kakak adiknya yang juga memakai jilbab telah membuka jilbabnya dan memakai pakaian siap tidur.
“Kenapa pas mau tidur jilbabnya nggak dibuka, kan disini saudara semua?”... Saudara, tapi kan belum tentu mahram.
Atau pertanyaan lain “Nak, kamu kenapa tetap pakai kaos kaki sih kalau di rumah saudara?”
Hmmm ...
“Hati-hati jangan terlalu fanatik belajar agamanya Mbak”
Potret 2:
Setiap ada tamu mendadak di rumah, atau ketika Ibu meminta bantuan beli sesuatu di warung, maka Ney selalu butuh waktu sejenak, untuk memakai rok panjang, jaket, kerudung kaos, dan kaos kaki. Seperti berlebihan, karena biasanya Ibu hanya menyambar jilbab ketika ke warung, atau bahkan lupa memakai jilbab ketika menyapu di halaman rumah.
Perkataan Ney ke Ibunya, “Bu, kalau ke depan rumah dipakai jilbabnya.”
“Kan ke depan aja, ga ada siapa-siapa kok.”
“Itu Bu, ada tetangga yang Bapak-bapak.”
“Ah, ga apa-apa itu mah. Beliau juga ga akan ngapa-ngapan.”
Sesekali Ibu Ney yang balik bertanya ketika Ney bersiap merapikan seluruh pakaiannya sebelum pergi, “Ke warung aja ngapain pake kaos kaki sih?”
“Kaki kan juga aurat Bu.”
“Aiih, warung kan deket, yang liat juga ga banyak”
Potret 3:
Saat acara pernikahan saudara, Ney mendapat peran sebagai penerima tamu. Seperti orang-orang lain yang bertugas, Ney juga dibantu oleh seorang perias dalam mengenakan pakaian dan jilbabnya. Berbagai assesoris disiapkan, agar jilbab yang dikenakan tetap terlihat modis dan baju yang dikenakan pun terlihat hiasannya.
“Tante, ini jilbabya saya pakai sendiri ya, nanti tante yang hias bagian atasnya saja,”
pinta Ney sebelum tante perias memakaikan jilbab yang pastinya akan tercekik di bagian leher.
“Oh silahkan mba.. Eh ini kenapa dilapisin jilbabnya?”
“Ini kan tipis jilbabnya tante, saya pakainya panjang menutup dada.”
“Oh, kalau sampai menutup dada sayang nanti hiasan di baju bagian atasnya ga kelihatan”
“Gak papa tante, saya biasa pakai begini...”
Tante perias jilbab pun masih berusaha merapikan jilbab yang telah dikenakan Ney seperti biasa tanpa hiasan. Beruntung Ney telah mempersiapkan jilbab lapis sendiri, jilbab lain untuk hiasan dan perlengkapan lainnya sehingga tante perias tidak banyak protes saat Ney meminta jilbabnya tetap terulur hingga ke dada.
Masih banyak potret-potret yang lainnya yang kadang memiliki berbagai pandangan dari orang-orang sekitar. Ketika seorang muslimah yang berhijab ingin sempurna menutup auratnya, ingin menyeluruh menjalankan ajaran agamanya, tetapi justru dianggap fanatik. Hal tersebut terjadi karena pemahaman setiap orang atas ajaran agama ini belum menyeluruh, sehingga pola pikir yang ditimbulkan pun berbeda.
Padahal setiap aturan islam terangkum jelas, baik dalam Al-Qur’an maupuh hadis. Selain itu buku-buku Islam yang membahas aturan islam secara spesifik pun mudah didapatkan di toko-toko buku. Namun sayangnya, berbagai pengetahuan itu kalah populer dengan perkembangan mode dan budaya yang ada saat ini, sehingga masyarakat melihat yang benar adalah yang kebanyakan terlihat di masyarakat, dan yang sedikit itu masuk dalam kategori fanatik atau berlebihan dalam menjalankan ajaran agama.
Fanatik lebih dekat konotasinya dengan hal yang negatif, sedangkan kaafah atau menyeluruh diperintahkan oleh Allah melalui Al-Qur’an yang pasti bermakna positif.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh," (QS. Al-Baqarah: 208).
Pada awal masa peredarannya di Indonesia, jilbab benar-benar berfungsi sebagai penutup aurat. Bentuknya sederhana dan penggunanya pun masih sedikit karena pada masa itu pelarangan jilbab masih terjadi di Indonesia. Jika kita tengok pada masa itu, maka jilbab yang banyak dikenakan adalah jilbab yang sesuai syariat, menutup dada, tidak transparan karena kainnya tebal, dan tidak beragam bentuknya.
Jilbab pada masa itu bukan ada karena perkembangan trend dalam berbusana, tapi jilbab pada masa itu adalah simbol perjuangan. Setelah jilbab dibebaskan penggunaannya, muslimah yang berjilbab pun semakin bertambah jumlahnya. Tak ada lagi kekhawatiran mereka tentang diskriminasi yang ada, karena jilbab telah diterima dengan baik.
Hal tersebut memberi peluang berbagai pihak untuk menggunakan kreatifitasnya, sehingga model jilbab pun semakin banyak. Saat ini berbagai model hadir untuk memenuhi kebutuhan muslimah tetapi sayangnya tidak semua trend jilbab yang ada sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, banyak juga jilbab yang hanya digunakan sebagai busana sehingga hanya dikenakan saat berpergian jauh, saat acara-acara penting, atau saat pengajian.
Sementara saat di rumah, ke warung, atau mengantar anak ke sekolah, dengan santainya tak memakai penutup aurat itu. Seakan jilbab mengalami pergeseran makna, dari kewajiban sebagai penutup aurat menjadi busana agar terlihat semakin menarik. Setelah trend jilbab gaul marak, maka jilbab-jilbab syar’i yang cenderung lebih konservatif pun dianggap moderat. Jilbab panjang cenderung dianggap tidak modis dan identik dengan fanatisme.
Pertama, sebenarnya simpel, bahwa tujuan menutup aurat adalah menghindari terlihatnya bagian tubuh secara langsung ataupun tidak langsung. Maka, menutup aurat dengan jilbab adalah dengan kain yang tidak transparan, kain yang menutup hingga ke dada, dan tentunya tidak ketat agar tak terlihat bentuk tubuhnya. Simpel, tapi terkadang yang sesimpel itu belum terinternalisasi pada seluruh muslimah.
Kedua, Esensi menutup aurat adalah menutupnya dari orang-orang yang tidak termasuk dalam mahram. Tidak semua saudara laki-laki dalam keluarga besar termasuk mahram, misalnya ipar atau saudara sepupu. Orang-orang yang termasuk mahram tercantum dalam Qur’an Surat An-Nur:31. Jadi kepada orang-orang selain mahram tersebut, kita sebagai muslimah wajib menutup aurat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung," (QS. An-Nur:31).
Ketiga, tentang jilbab adalah tentang kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar, maka menjaganya adalah menjaga kehormatan dan izzah sebagai seorang muslimah. Maka, ketika persoalan jilbab harus disandingkan dengan persoalan lain seperti pekerjaan, penampilan, atau eksistensi diri, jilbab harus tetap menjadi perhatian utama. Bagaimanapun kondisinya, usahakan jilbab syar’i tetap melekat pada diri kita.
Saat ini, model jilbab yang syar’i tapi tetap modis juga telah banyak beredar sehingga tak perlu khawatir ketika harus tetap tampil syar’i saat acara-acara pernikahan atau acara penting lainnya. Bahkan ketika di luar negeri yang memiliki musim panas, jilbab syar’i tetap dipertahankan oleh muslimah yang ingin kaafah menjalankan ajaran agamanya.
“Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatinya bersamamu,” (HR. Tirmidzi).
Di luar respon negatif seperti pada potret-potret sebelumnya, masih ada respon positif dari mereka yang jujur dengan ajaran agamaNya. Respon positif ini tak lepas dari benih-benih pemahaman yang telah ditanamkan sebelumnya.
Potret 4
Saat menjahit baju untuk sebuah acara pernikahan saudara, Ney tetap berusaha agar kebaya yang ia kenakan tidak seperti kebaya pada umumnya yang dibuat pas dengan ukuran tubuh. Maka ia sangat berpesan pada Ibu penjahit untuk melebarkan ukuran bajunya.
“Bu, ini jahitnya jangan ngepas badan ya, tolong dilebihkan di bagian pinggangnya.”, pinta Ney pada seorang penjahit yang sedang mengukur badannya.
“Ooh gitu ya Mba, tapi kalau kebaya kurang bagus kalau lebar,” jawab Ibu penjahit.
“Yang penting ga ngebentuk badan Bu, jadi dilebihin saja di sampingnya. Untuk panjang ke bawah dibuat sampai lutut juga Bu..." tutur Ney.
“Iya ini Bu, dia ga mau pakai baju yang ngepas-ngepas. Sukanya yang lebar," tambah Ibunda Ney.
“Iya, sih Bu, harusnya yang benar memang begitu kan. Dididik bagaimana sih Bu, ini anaknya bisa salihah begini ...”
Ya, penjahit itu jujur bahwa sejatinya pakaian yang sesuai syariat tidak ketat dan tidak memperlihatkan lekukan badan. Walau biasanya ia menjahit sesuai dengan ukuran badan yang pas agar terlihat cantik, tapi ia tetap mengakui bahwa di luar kecantikan itu ada hal yang lebih tinggi, aturan syariat agama.
Bukan, yang kita cari memang bukan respon atau tanggapan dari orang-orang sekitar kita. Karena pandangan manusia tak ada artinya dibandingkan pandangan Allah. Namun, tentunya menjadi tugas kita untuk mengajarkan kebaikan pada orang-orang di sekitar kita, agar pemahaman mereka tentang agama ini tidak setengah-setengah. Agar setiap muslimah di sekitar kita mengerti bagaimana cara menjaga auratnya dengan sempurna dan dapat menjaga izzahnya dimanapun mereka berada.
Muslimah salehah, jangan takut dianggap fanatik, jika kita yakin bahwa yang kita jalani adalah hal yang benar. Muslimah cerdas harus mengambil langkah yang tepat saat dianggap berlebihan dalam menjalani ajaran agama, bukan dengan meninggalkan prinsipnya atau bahkan merasa malu atau minder saat dianggap minoritas, tetapi siap menebarkan benih-benih pemahaman yang sebenarnya dengan cara yang tepat.
Ketika kita meyakini sesuatu hal, maka kita akan memegangnya dengan sunguh-sungguh dan pastikan saja hal yang kita pegang saat ini sesuai dengan dua pedoman utama agama kita, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.
*** Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Saat ini sedang menjalankan amanah sebagai Ketua Bidang I SALAM UI.
"Setiap jiwa tidak akan mati sampai terpenuhi seluruh rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah & perbaguslah dalam mencarinya, ambil yang baik lagi halal dan tinggalkan yang haram" (HR Al-Hakim)